Terkadang Aku merasa
seperti tidak menjalani kehidupan
Semua yang kulalui
penuh kekosongan
Aku tidak lagi
mengerti bagaimana membuat hari terasa seperti hari
dan cinta seperti
cinta
dan bahagia seperti
bahagia
dan tersenyum seperti
benar-benar sebuah senyuman
dan semua kenyataan
seperti ideology , teori, dan harapan yang banyak didengungkan manusia.
aku merasa seperti
raga yang berjalan tanpa nyawa
kenyataan yang
kulihat hanyalah kekacauan
mungkin kau berfikir
aku harus mengubah cara pandangku
aku harus ikhlas
apapun yang terjadi
atau sabar saja
atau aku harus
bersyukur karena diluar sana ada yang lebih menderita darimu
aku telah coba semua
hal itu
tapi kenyataan dengan
keras berkata “aku memang kekacauan”
hanya mimpi dan
harapan yang benar-benar indah
ya, dan tidak pernah
nyata
apa kamu pikir aku
orang yang pesimis ?
selalu berfikir
negatif?
Apa kamu pikir aku
hanya mencari pembenaran atas segala pandanganku ini?
Atu mungkin kau malah
berfikir “yah itu nasibmu , tidak seperti nasibku”
Ya terbukti ,kau memang
bagian dari kenyataan ,Kau memang kekacauan.
Atau bahkan kamu
berfikir kritis “lhoh katanya kamu ikhlas , kamu sabar , kamu bersyukur. Kalo
gini namanya kamu tidak sabar , tidak ikhlas.”
Coba pahami
pandanganmu ini :
Kesabaran manusia
dibatasi
Keikhlasan manusia
pun dibatasi
Karena Tuhan
menciptakan dua hal yang berbeda secara berdampingan . begitu juga rasa dalam
dirimu.
kau tidak bisa
mengingkari hukum alam
Hukum Tuhan
Jikapun bisa itu
hanya ada dalam imajinasimu
Contoh kecil jika kau
yakin kau orang yang ikhlas ataupun paling ikhlas didunia : “bagaimana jika
orangtuamu dibunuh didepan matamu sendiri. Disiksa seperti binatang? Kamu masih
bilang ikhlas , bersyukur, sabar , dan bahkan tersenyum?”
Atau kau malah
menjawab :” mau gimana lagi udah takdir, bersyukur aja dong. Apa aku harus
meratapi hidup, nangis-nangis menyedihkan diri. Gak lah yau”
Kamu memang
benar-benar kekacauan yang sejati. Kamu sebaiknya tidak ada didunia ini.
Seperti halnya aku .
banyak kekacauan sekitarku yang tak mampu ku benahi . Dan aku hanya dijadikan
penonton tanpa diberikan senjata untuk bisa menyelesaikannya. Tangis mereka
adalah tangisku . kesakitan mereka juga kesakitanku.
Atau jangan-jangan
kau berfikir : cobalah untuk tidak berfikir tentang hal yang tidak mampu kau
benahi”
Kau akan mengerti
jika kau berada diposisiku
Bukan lewat
pengertianmu.
Sampai pada titik ini
aku baru mulai memahami . Tuhanlah satu-satunya kenyataan yang terasa seperti
harapan.
Tanpa perlu kau
hakimi
Semesta telah
mengajari .
Semangatlah satu-satunya
jalan
Keyakinan dan mental
yang benar-benar mental murni hakekat manusia ternyata menjadi senjataku
Bukan mental buatan
manusia yang penuh campur aduk dunia “fana”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar