Jumat, 25 Desember 2015

Jancuknya Kehidupan

Terkadang Aku merasa seperti tidak menjalani kehidupan
Semua yang kulalui penuh kekosongan
Aku tidak lagi mengerti bagaimana membuat hari terasa seperti hari
dan cinta seperti cinta
dan bahagia seperti bahagia
dan tersenyum seperti benar-benar sebuah senyuman
dan semua kenyataan seperti ideology , teori, dan harapan yang banyak didengungkan manusia.
aku merasa seperti raga yang berjalan tanpa nyawa
kenyataan yang kulihat hanyalah kekacauan
mungkin kau berfikir aku harus mengubah cara pandangku
aku harus ikhlas apapun yang terjadi
atau sabar saja
atau aku harus bersyukur karena diluar sana ada yang lebih menderita darimu
aku telah coba semua hal itu
tapi kenyataan dengan keras berkata “aku memang kekacauan”
hanya mimpi dan harapan yang benar-benar indah
ya, dan tidak pernah nyata
apa kamu pikir aku orang yang pesimis ?
selalu berfikir negatif?
Apa kamu pikir aku hanya mencari pembenaran atas segala pandanganku ini?
Atu mungkin kau malah berfikir “yah itu nasibmu , tidak seperti nasibku”
Ya terbukti ,kau memang bagian dari kenyataan ,Kau memang kekacauan.
Atau bahkan kamu berfikir kritis “lhoh katanya kamu ikhlas , kamu sabar , kamu bersyukur. Kalo gini namanya kamu tidak sabar , tidak ikhlas.”
Coba pahami pandanganmu ini :
Kesabaran manusia dibatasi
Keikhlasan manusia pun dibatasi
Karena Tuhan menciptakan dua hal yang berbeda secara berdampingan . begitu juga rasa dalam dirimu.
kau tidak bisa mengingkari hukum alam
Hukum Tuhan
Jikapun bisa itu hanya ada dalam imajinasimu
Contoh kecil jika kau yakin kau orang yang ikhlas ataupun paling ikhlas didunia : “bagaimana jika orangtuamu dibunuh didepan matamu sendiri. Disiksa seperti binatang? Kamu masih bilang ikhlas , bersyukur, sabar , dan bahkan tersenyum?”
Atau kau malah menjawab :” mau gimana lagi udah takdir, bersyukur aja dong. Apa aku harus meratapi hidup, nangis-nangis menyedihkan diri. Gak lah yau”
Kamu memang benar-benar kekacauan yang sejati. Kamu sebaiknya tidak ada didunia ini.
Seperti halnya aku . banyak kekacauan sekitarku yang tak mampu ku benahi . Dan aku hanya dijadikan penonton tanpa diberikan senjata untuk bisa menyelesaikannya. Tangis mereka adalah tangisku . kesakitan mereka juga kesakitanku.
Atau jangan-jangan kau berfikir : cobalah untuk tidak berfikir tentang hal yang tidak mampu kau benahi”
Kau akan mengerti jika kau berada diposisiku
Bukan lewat pengertianmu.
Sampai pada titik ini aku baru mulai memahami . Tuhanlah satu-satunya kenyataan yang terasa seperti harapan.
Tanpa perlu kau hakimi
Semesta telah mengajari .
Semangatlah satu-satunya jalan
Keyakinan dan mental yang benar-benar mental murni hakekat manusia ternyata menjadi senjataku

Bukan mental buatan manusia yang penuh campur aduk dunia “fana”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar